28 November 2011

BIJAKSANA DALAM MENYIKAPI KEKALAHAN

Hati yang dongkol, kecewa dan kesal terjadi ketika dihadapkan pd situasi yang tidak menguntungkan itu sangat manusiawi.

Mari kita sikapi dg penuh arif dari setiap kekalahan atau kegagalan. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda, kegagalan adalah sukses masa depan setiap kekalahan, kegagalan, kesedihan bahkan kesuksesan selalu ada dampaknya. Ada hikmah, ada pelajaran, ada mutiara terpendam di dalamnya.


Kegagalan sesungguhnya merupakan batu uji kesiapan kita untuk meraih keberhasilan. Kegagalan mengingatkan kita pada perkara apa yang harus diperbaiki atau dimatangkan, usaha yang sungguh-sungguh, persiapan harus diperbaiki, cara atau teknik harus dimodifikasi, atau waktu pelaksanaannya harus lebih tepat.

Bu Guru vs Bu RT



Sebuah kata bijak tentang Guru yaitu "digugu dan ditiru" atau sebuah ungkapan dari seorang Pahlawan Nasional yaitu :"Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, tut wuri handayani" Melihat kedua kata tersebut sungguh dalam arti dari falsafah di atas.

Seorang guru selain untuk di gugu dan ditiru para muridnya, baik dari sikap, prilaku, tutur kata, dan kepribadiannya. Selain itu guru harus menjadi unsur perubahan (agent of change) dimasyarakat. Keberadaan seorang guru di masyarakat sangatlah diandalkan karena selain mempunyai wawasan di atas rata-rata masyarakat juga mempunyai nilai lebih yaitu jenjang akademis.

Dengan demikian yakinlah seorang guru menjadi publik pigur di masyarakat untuk membina, mengarahkan, mencerahkan dan menciptakan pembaharuan di masyarakat.

Falsafah Ing Ngarso Sung Tulodo (berani tampil didepan menjadi pemimpin untuk memberi contoh pada masyarakat), Ing Madya Mangun Karso (ketika hidup ditengah masyarakat untuk membangun prakarsa dan bekerjasama),
Tut Wuri Handayani, (saat di belakang memberi daya-semangat dan dorongan kemajuan masyarakat).sangatlah melekat pada dirinya.

Keberadaan guru ditengah masyarakat sangatah berarti terutama untuk embangun mental masyarakat agar lebih baik.
Pembinaan mental tentu tidak semudah membalikan sebelah tangan, harsulah memerlukan proses yang cukup lama dan panjang. Pembinaan mental dan karakter oleh seorang guru tentu sudah terbiasa untuk diterapkan kepada siswanya. dengan kesabaran dan keluh kesah dari guru banyak menciptakan siswa-siswinya yang berhasil menjadi orang-orang yang sukses.

Namun ada sebuah dilematis yang hinggap pada para Ibu guru kita. apakah itu?
Sesuai dengan keberadaan seorang ibu mempunyai fungsi sentral dalam rumah tangga RT) selain berbakti kepada suami untuk mengurus dan mengatur keberadaan rumah, juga harus memperhatikan, membina,mengarahkan dan mendidik anak-anaknya. Apabila melihat keterangan baik Al-Qur'an atau hadits Nabi saw keberadaan seorang istri (ibu) dalam keluarga adalah sebagai : "

1. Melegakan hati suami bila dilihat.
Hal ini tersebut di dalam hadits Ibnu Majah dari sahabat Abu Umamah AI-Bahily.
"Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah taqwa kepada Allah,maka tidak ada sesuatu paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shaleh, yaitu; taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, nrima bila diberi janji, dan menjaga kehormatan dirinya dan suaminya, ketika suaminya pergi. " (HR. 1bnu Majah)

2. Memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir.
Hal ini Allah firmankan di dalam QS. 30: 21
"Di antara tanda kekuasaan-Nya , yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya dan Dia menjadikan rasa cinta dan kasih sayang antara kamu. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) bagi kaum yang berpikir. "

3. Membantu memelihara akidah dan ibadah.
Hal ini dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:
"Barangsiapa diberi oleh Allah istri yang shalihah, maka sesungguhnya ia telah diberi pertolongan oleh Allah meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah di dalam memelihara separuh lainnya. " (HR. Thabrani dan Hakim).

4. tanggung jawab seorang isteri sangatlah besar. Karena dialah yang melahirkan sang anak, menyusuinya, dan menemani serta mendidik anak dari jam ke jam, hari ke hari. Bahkan ketika seorang anak masih balita, kemudian menginjak remaja dan menjelang dewasa, di dalam rumah maupun di luar rumah sang ibu senantiasa mewarnai bentuk kehidupan sang anak. Hingga mungkin sang ayah telah tiada maka ibulah yang tetap mendampingi putranya untuk menyongsong masa depan. Inilah hikmah diperintahkannya wanita untuk berada di rumahnya. Allah berfirman :
Artinya : "Dan hendaknya kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu." ( QS Al Ahzab : 33)

5.Perempuan sebagai ibu dalam keluarga, idealnya menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh anak perempuannya dalam segala hal yang dilakukannya di dalam urusan rumah tangga.

Melihat dasar di atas jelaslah keberadaan ibu (istri) adalah untuk membina rumah tangga, mengurus keluarga dan mendidik anak-anak.

Permasalahannya, bagaimana apabila seorang Ibu menjadi guru di pendidikan Formal? menjadi guru adalah pekerjaan yang sangat mulia bagi manusia tak terkecuali untuk laki-laki atau perempuan. artinya wanita (ibu) yang mempunyai pekerjaan sebagai guru mempunyai nilai kebaikan dua hal . 1) nilai kebaikan sbg ibu untuk membina rumah tangga, 2) nilai kebaikan sebagai ibu guru yang bertugas secara profesional.

Dua tugas tersebut apabila mampu menjalaninya dengan baik dan adil, jelaslah si Ibu guru mempunyai pahala dua kali lipat dari Alloh swt.
Namun hari ini terdapat banyak masalah yang terjadi pada ibu-ibu guru. Banyak para ibu mengorbankan rumah tangga demi karir dan jabatan,
rumah tangga terbengkalai, suami terlupakan dan anak tak terdidik dengan benar.
Contoh salah satu kasus dalam rumah tangga ketika si Istri sibuk dengan tugas keguruannya, ia pergi pagi dan pulang siang menjelang petang. Padahal waktu pagi adalah waktu yang sangat berkesan bagi suami dan anak-anak, dimana mereka merindukan sarapan pagi yang dihidangkan oleh seorang ibu kini sudah tiada lagi, ketika anak-anak butuh untuk di siapkan baju seragam, sampai kata salam dan cium tangan kini sudah tiada lagi. Belum lagi ketika Ibu guru sedang mengajar anak-anak lain di sekolah, ia rela menitipkan anak-anak yang masih kecil kepada pembantu yang terbatas ilmu dan wawasannya. Akibatnya anak sendiri terbengkalai dan kurang terdidik tak jarang mereka menangis sampai tersedu sedan memanggil ibu atau mamah, anak rindu belaian, rindu kasih sayang dipangkuannya. Kini yang anak rasakahan hanyalah alunan lagu ninak bobo pembantu yang terkadang merasa kesal dan mencubit anak itu.

Sungguh ironis keadaan seperti ini. Akibat yang lebih parah anak mempunyai karakter, pemalu, minder, cepat marah dan kurang didikan yang maksimal dari orang tua. namun ini semua bisa kembali pada diri para ibu, bagaimana mengantisipasi hal tersebut secara baik dan seimbang. Ibu yang di hormati, dikagumi, diteladani oleh anak-anaknya dan seorang guru yang di taati dan di hormati oleh anak-anak didiknya.

Wallohu`alam bis showab

(Aboe Akbar Abi)

26 November 2011

SEMANGAT BERHIJRAH



Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Sebenarnya kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal. Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

Memang kita bisa merasakan bedanya peristiwa penyambutan tahun baru Masehi dan tahun baru Islam (Hijriah). Tahun baru Islam disambut biasa-biasa saja, jauh dari suasana meriah, tidak seperti tahun baru Masehi yang disambut meriah termasuk oleh masyarakat muslim sendiri. Sebagai titik awal perkembangan Islam, seharusnya umat Islam menyambut tahun baru Islam ini dengan semarak, penuh kesadaran sambil introspeksi, merenungkan apa yang telah dilakukan dalam kurun waktu setahun yang telah berlalu.

Tapi ada satu kelebihan yang masih banyak dilakukan di beberapa pondok pesantren dan beberapa pengajian majelis ta’lim dalam memperingati tahun baru Islam (Hijriah), yaitu pada penghayatan makna peringatan itu sendiri untuk bisa dijadikan sebagai sarana instrospeksi diri. Sebaliknya, di awal tahun baru Masehi, pada umumnya yang ditonjolkan hanya aspek yang berkaitan dengan duniawi, kulit luarnya saja.

Banyak manusia yang terlena oleh momen pergantian tahun. Waktu penting yang seharusnya dijadikan sarana instrospeksi diri, malah telah disalahgunakan sebagai sikap melampaui batas, berhura-hura semalam suntuk hingga terbit matahari…bukannya untuk mendekatkan diri…memohon ampun kepada Allah SWT, tapi malah sebaliknya, mengatas namakan kegembiraan, mereka melupakan nikmat Allah dengan menggelar kemungkaran dan sikap-sikap yang membawa kehancuran dan amarah Allah… naudzubillahimindaliq.

Dalam bahasa Arab, hijrah bisa diartikan sebagai pindah atau migrasi. Tafsiran hijrah disini diartikan sebagai awal perhitungan kalender Hijriyah, sehingga setiap tanggal 1 Muharam ditetapkan sebagi hari besar Islam. Memang, sejak hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib, sebuah kota subur, terletak 400 kilometer dari Makkah, Islam lebih memfokuskan pada pembentukan masyarakat muslim yang tidak kampungan dibawah pimpinan Rasulullah.

Itulah sebabnya kota Yastrib dirubah namanya menjadi Al-Madinah yang artinya “kota” atau lebih tenar lagi disebut kota Rasulullah. Inilah satu nilai yang sangat penting kenapa hijrah dijadikan sebagai titik awal terbitnya fajar baru peradaban umat Islam. Terbitnya fajar baru ini berkat hijrah. Maka hijrah dengan demikian selalu membuat perubahan. Hijrah merupakan usaha dan semangat besar manusia yang ingin merubah masyarakat yang beku menjadi manusia yang maju, sempurna dan bersemangat.

Jadi inti dari peringatan tahun baru Hijriah adalah pada soal perubahan, maka ada baiknya momen pergantian tahun ini kita jadikan sebagai saat saat untuk merubah menjadi lebih baik. Itulah fungsi peringatan tahun baru Islam.

Ada 3 pesan perubahan dalam menyambut tahun baru Hijriah ini, yaitu:
Pertama : Hindari kebiasaan-kebiasaan lama / hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di
tahun baru ini.
Kedua : Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa
dimata Allah SWT, seperti membiasakan shalat dhuha 2 raka’at, suka sedekah kepada fakir miskin, menyantuni
anak-anak yatim, dll.
Ketiga : Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.

Berbicara tentang perkembangan Islam, tentu tidak bisa lepas dari peristiwa hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Dakwah Nabi di Makkah pada saat itu banyak mengalami rintangan berupa tantangan dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy. Selama kurun waktu 12 tahun sejak Nabi diutus, dakwah Rasulullah tidak mendapat sambutan menggembirakan, bahkan sebaliknya banyak menghadapi terror, pelecehan, hinaan, dan ancaman dari kaum musyrikin dan kafir Quraisy yang dikomandani oleh papan Nabi sendiri, yaitu Abu Lahab.

Karena itu, Rasulullah diperintahkan Allah SWT untuk pindah (hijrah). Akhirnya, beliau meninggalkan kota kelahiranya Makkah, berhijrah ke kota Madinah. Di Madinah, Nabi dan para sahabat Muhajirin mendapat sambutan hangat oleh kaum Anshar (penduduk asli Madinah).

Agama Islam pun mengalami perkembangan amat pesat. Dalam kurun waktu relatif singkat, hanya sekitar 8 tahun, suara Islam mulai bergema ke seluruh penjuru alam dan Islam pun berkembang meluas ke seluruh pelosok permukaan bumi. Karena itu tidak mengherankan jika peristiwa hijrah merupakan titik awal bagi perkembangan Islam dan bagi pembentukan masyarakat muslim yang telah dibangun oleh rasulullah.

Menurut para pakar sejarah, masyarakat muslim, kaum Muhajirin dan Anshar, yang dibangun Rasulullah SAW di Madinah merupakan contoh masyarakat ideal yang patut ditiru, penuh kasih sayang, saling bahu-membahu dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan peribadi. Karena itu, tidak mengherankan jika Khalifah Umar bin Khattab menjadikan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan tahun baru Islam, yang kemudian dikenal dengan tahun baru Hijriah,

Allah berfirman,

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu” (Al-Hujurat [49]: ayat 13)

Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang bersifat jangka pendek, dan melupakan sesuatu yang bersifat jangka panjang. Manusia sering tergesa-gesa dan ingin cepat berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang menempuh jalan pintas. Islam menekankan bahwa hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan dan rintangan.

Bagi kita umat Islam di Indonesia, sudah tidak relevan lagi berhijrah berbondong-bondong seperti jijrahnya rasul, mengingat kita sudah bertempat tinggal di negeri yang aman, di negeri yang dijamin kebebasannya untuk beragama, namun kita wajib untuk hijrah dalam makna “hijratun nafsiah” dan “hijratul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual, perpindahan dari kekufuran kepada keimanan, dengan meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah, perpindahan dari kebodohan kepada peningkatan ilmu, dengan mendatangi majelis-majelis ta’lim, perpindahan dari kemiskinan kepada kecukupan secara ekonomi, dengan kerja keras dan tawakal.

Pendek kata niat yang kuat untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umat sehingga terwujud “rahmatal lil alamin” adalah tugas suci bagi umat Islam, baik secara indifidual maupun secara kelompok. Tegaknya Islam dibumi nusantara ini sangat tergantung kepada ada tidaknya semangat hijrah tersebut dari umat Islam itu sendiri.

Semoga dalam memasuki tahun baru Hijriah yakni tahun 1431 Hijriyah ini, semangat hijrah Rasulullah SAW, tetap mengilhami jiwa kita menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, sehingga predikat yang buruk yang selama ini dialamatkan kepada umat Islam akan hilang dengan sendirinya, dan pada gilirannya kita diakui sebagai umat yang terbaik, baik agamanya, baik kepribadiannya, baik moralnya, tinggi intelektualnya dan terpuji, amin.

Wallohu`alam bis showab

sumber : http://www.akhlaqulkharimah.com

24 November 2011

BERDZIKIR

Dzikir adalah suatu cara / media untuk menyebut/mengingat nama Allah dalam segala aktivitas baik lisan maupun perbuatan, semua bentuk aktivitas yang tujuannya mendekatkan diri kepada Alloh itulah dinamakan dzikir. Dzikir mengingat Alloh adalah kegiatan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan dimana saja ketika berdiri , duduk dan berbaring .

Alloh Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya berdzikir kepada Allah itu adalah lebih besar -keutamaannya-.”
(Qs.al-’Ankabut: 45)
“Maka berdzikirlah engkau semua kepadaKu, tentu Aku akan ingat padamu semua.”
(Qs.Al-Baqarah: 152)
“Dan berdzikirlah kepada Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan takut dan bukan dengan suara keras, di waktu pagi dan petang dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai” (Qs.Al-A’raf: 205)
“Dan berdzikirlah engkau semua kepada Allah dengan sebanyak-banyaknya, supaya engkau semua berbahagia.” (Qs.Al-Jumu’ah: 10)
“Sesungguhnya orang-orang Islam, lelaki dan perempuan,” sampai kepada firman Allah Ta’ala: “Dan orang-orang’yang berdzikir kepada Allah, lelaki dan perempuan dengan sebanyak-banyaknya, maka Allah menyediakan kepada mereka itu pengampunan serta pahala yang besar.” (Qs.Al-Ahzab: 35)
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya dan Maha Sucikanlah Allah itu di waktu pagi dan sore,” sampai akhir ayat.
(Qs.Al-Ahzab: 41-42)

Secara bermakna Dzikir bisa diartikan dengan singkatan dari :

DOA : meminta kepada Alloh atas kelemahan dan ketidaktahuan kita, karena Alloh Maha mengetahui segala-galanya baik yang kongkret maupun yang abstrak. Doa adalah kunci menajamkan tujuan akhir yang hendak kita capai. Untuk itu apabila kita akan memulai atau melaksanakan aktivitas maka berdoalah terlebih dahulu, karena doa pengiring atau penuntun keberhasilan dalam segala bidang dengan berdoa yang ikhlas dan benar pasti kemudahan-kemudahan akan kita raih, baik dalam pekerjaan, mencari nafkah, mencari ilmu dan lain-lain.

ZIARAH : melakukan silaturahmi kepada sesama manusia, baik saudara senasab atau pun saudara seagama. Jagalah hubungan baik dengan mereka dan belajarlah dari mereka baik ilmu ataupun pengalaman-pengalaman. Apalagi kalau bersilaturahmi dengan orang alim (berilmu) dan soleh, mintalah berguru kepada mereka, pasti ilmu dan kesolehannya pun aan berimbas kepada kita.

IMAN : keyakinan yang sangat mendalam hanya kepada Alloh SWT, segala sesuatu hal pasti Dia yang mengaturnya. Keberhasilan atau kesuksesan seorang manusia pasti atas pertolongan dan izin dari-Nya. Karena itu iman merupakan kunci sukses dalam mengejar kehidupan baik duniawi maupun ukhrowi.

KOMITMEN : Komitmen atau istiqomah adalah salah satu kunci sukses jua dalam menjalani kehidupan dengan selalau tekun dalam melakukan kebaikan-kebaikan disertai integritas diri yang tinggi. Integritas dalam diri seseorang sangatlah diperlukan, apapun teori anda bagaimana pun cerdasnya pemikiran anda tanpa komitmen dan integritas dalam beramal akan menemui kegagalan.

IKRAR : cita-cita yang kita inginkan atau misi suci yang ingin anda raih perlu di ikrarkan atau di ucapkan kepada orang. Karena akan menjadi motivasi dasar kita untuk berupaya dengan sungguh-sungguh. Kita berikrar kepada orang yang paling dekat dengan kita dengan target tertentu, missal: tahun depan saya harus berhasil menjadi anu, atau saya harus mempunyai anu, dan lain sebagainya. Ikrar yang paling dasar adalah ikrar kepada Alloh sebagai Tuhan dan meridoinya, Islam sebagai agamaku dan Nabi Muhammad SAW sebagai Rosul-Nya. (2 kalimat syahadat dan doa Rodhitu billahi robba...)

REALITAS : pada akhirnya kita harus sadar dengan realitas yang kita hadapi. Kita hanya berusaha dan Alloh yang menentukan (tawakal). Kita harus bersabar dengan realitas yang ada didepan mata kita. Belajarlah untuk menghadapi realitas kehidupan.
Wallohu`alam bis showab


Aboe akbar Abi
(Trusco dan berbagai sumber)

Umma_Cahaya Hati



SEPANJANG HIDUP

ku bersyukur kau di sini kasih
di kalbuku mengiringi
dan padamu ingin ku sampaikan
kau cahaya hati
dulu kupalingkan diri dari cinta
hingga kau hadir membasuh segalanya
oh inilah janjiku padamu

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
tiada ragu dengarkanlah
kidung cintaku yang abadi

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu.

Maher Zain Title Sepanjang Hidup..



SEPANJANG HIDUP


ku bersyukur kau di sini kasih
di kalbuku mengiringi
dan padamu ingin ku sampaikan
kau cahaya hati
dulu kupalingkan diri dari cinta
hingga kau hadir membasuh segalanya
oh inilah janjiku padamu

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu

yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
tiada ragu dengarkanlah
kidung cintaku yang abadi

sepanjang hidup bersamamu
kesetiaanku tulus untukmu
hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
sepanjang hidup seiring waktu
aku bersyukur atas hadirmu
kini dan selamanya aku milikmu

yakini hatiku kau anugerah Sang Maha Rahim
semoga Allah berkahi kita
kekasih penguat jiwaku

berdoa kau dan aku di Jannah
ku temukan kekuatanku di sisimu
kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
oh inilah janjiku kepadamu.

23 November 2011

BERPIKIR ANTARA MAKNA DAN METODE

A. Memahami Makna Berpikir
Dalam kegiatan berpikir para ahli memberikan batasan, diantaranya ada yang disebut kegiatan
berpikir logis dan kegiatan berpikir analisis.
Kegiatan berpikir logis adalah suatu pola berpikir yang secara luas disebut dengan logika,
kegiatan berpikir ini secara bebas berpikir tanpa terpengaruh dengan alur pola pikir
seseorang, maka tidak ada kegiatan analisis.
Kegiatan berpikir analisis adalah kegiatan berpikir yang diharuskan mengikuti pola-pola
tertentu secara konsekuen. Dengan demikian berpikir adalah kegiatan yang sangat penting bagi
manusia. Kegiatan berpikir memiliki ruang lingkup, diantaranya sebagai berikut :
1.Ilmu lahir karena manusia diberkahi Alloh suatu sifat “ingin tahu” (Inquiry). Rasa ingin
tahu inilah yang kemudian menjurus menjadi kegiatan berpikir.
2.Alloh swt mengajarkan kepada Nabi Adam as dan manusia dengan membaca, dari sesuatu yang tidak
tahu menjadi tahu. (Qs. Al-Baqarah : 31 dan Qs. Al-Alaq : 1- 5)
3.Pemikiran atau berpikir merupakan kata benda dari aktivitas akal yang ada dalam diri manusia,
baik kekuatan akal berupa kalbu, ruh atau dzhon, dengan pengamatan dan pendalaman untuk
menemukan makna yang tersembunyi dari persoalan yang dapat diketahui, maupun untuk sampai pada
hukum atau hubungan antar sesuatu. (Thaha Jabir Alwani,1989)
4.Berpikir atau fikir ialah ialah penjamahaan baying-bayang yang telah diindra yang merupakan
aplikasi akal yang didalamnya untuk membuat analisis dan sintesis. (Ibnu Kholdun, 1986)
5.Pemikiran adalah pendayaan akal terhadap sesuatu dan jumlah aktivitas otak, berupa berpikir,
berkehendak dan berperasaan, yang bentuk paling tingginya adalah kegiatan menganalisis,
menyusun dan berkoordinasi. (Muhammad Imarah, 1994).
6.Berpikir itu menghadirkan 2 ma’rifat di dalam kalbu, dari keduanya tersebut melahirkan
ma’rifat yang ketiga. (Imam Al-Ghazali)
7.Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa
pengetahuan. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berpikir, merasaan bersikap dan
bertindak. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan proses berpikir. Penalaran
memiliki dua cirri pola pikir, yaitu pola berpikir luas dan bebas (logis) dan pola berpikir
analistis. (Jujun S, 1988)
8.Berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati (Moh. Natsir, 1985)
9.Proses berpikir dari manusia normal mempunyai urutan :
1)Timbulnya rasa sulit
2)Mendefinisikan rasa sulit dalam bentuk masalah
3)Memunculkan kemungkinan pemecahan masalah, seperti : reka-rea, hipotesa, inferensi atau
teori.
4)Menguraikan ide-ide pemecahan secara rasional berdasarkan pengumpulan data.
5)Menguatkan pembuktian tentang ide-ide dengan menggunakan percobaan. (Jhon Dewey, 1933)
10.Dan Alloh yang telah mengeluarkan manusia dari perut ibunya dalam kondisi tidak tahu,
kemudian memberinya telinga, mata, dan hati (perasaan dan akal) agar mereka bersyukur
(Qs. An-Nahl : 78)
B. Metode Berpikir
Selain itu dalam berpikir diperlukan juga metode berpikir, agar pikiran kita tidak merasa
bosan, sumpek dan berpikir yang kurang baik, Dengan demikian diperlukan adanya metode
berpikir adalah sebuah perangkat operasi yang memungkinkan peralatan “otak (mesin berpikr)”
selalu hidup dan bekerja melaksanakan tugasnya. Metode berpiir seperti halnya software dalam
program komputer . adapun manfaat dari metode berpikir adalah sebagai berikut :
1.Menata dan menjernihkan pikiran
2.Mengakhiri pikiran melantur tanpa tujuan
3.Membantu ide-ide agar memiliki bentuk
4.Tidak perlu menciptakan ulang dan terciptanya arah-arah menuju ke pengetahuan baru yang
lebih cepat.
5.Menambah rasa percaya diri
6.Menjaga diri kita agar selalu berada dalam arah yang benar / jalan yang lurus
7.Mencegah ketergantungan kita hanya pada intuisi
8.Tidak perlu dipelajari secara bertahap
9.Memberikan arah dari masalah yang akan datang, sehingga kita lebih siap menghadapi
perubahan dan menciptakan inovasi.
10.Memberikan dukungan untuk berpikir secara konsepsional.

Untuk itu milikilah peralatan berpikir, konsep, rumus, kerangka berpikir, dan sejenisnya
dalam memecahkan masalah secara lebih efektif dan efisien.
Kekuatan berpikir seseorang identik dengan kekuatan intelektualnya. Kekuatan intelektual
seseorang dapat dilihat dari segi kemampuan berpikir yang logis, analisis, kreatif dan
Inovatif.
Kegiatan intelektual adalah aktivitas otak manusia yang secara sadar melakukan proses
berpikir alamiah dengan mengacu pada struktur pengkajian ilmiah, yang meliputi pengkajian
masalah, menyusun kerangka teoritis dan pengajuan hipotesis, membuat metodologi penelitian,
memperoleh hasil penelitian dan membuat kesimpulan.
Wallohu`alam
Aboe Abar Abi (sumber Trusco dan yang lainnya)

DERITAKU

Tuhan…
Aku mohon cabutlah nyawaku ini
Kalau diri ini hanya untuk berbuat dosa
Bila diri ini hanya berbuat salah
Dan jika diri ini sungguh tak berarti
Ku tak ingin berlama-lama gelimangan dalam kesalahan dan dosa-dosaku

Kini aku sadari aku hanyalah sosok yang tak berarti
Kini aku tahu aku hanyalah benalu yang hinggap menjadi beban
Kini aku mengerti sungguh lemah diriku,
Selalu gagal gagal dan gagal, ….salah salah dan salah….

Entah sampai kapan terus begini, padahal sang waktu terus berlalu
Sungguh aku tak ingin mengecewakan mereka yang mengasihiku
Mereka sangat lugu dan tak mengerti apapun
Yang mereka tahu, aku hanyalah lebah yang memberinya madu setiap hari
Yang mereka tahu aku adalah matahari yang menerangi langkah-langkahnya

Tuhan…..
Aku kehilangan haluan aku kehilangan semangat
Namun ku tak ingin pula kecewakan mereka..
Kalau mereka tahu aku hanyalah serangga yang fakir
Kalau mereka tahu aku hanyalah bintang yang tak bersinar
Kalau mereka tahu aku hanyalah awan hitam yang mendung
Pastilah mereka kan menepi dan berlari daripadaku

Tuhan …
Kalau Kau tak cabut nyawaku
Berilah aku kesempatan tuk raih semuanya
Jadikanlah aku pemberi harapaanya dengan seijin-Mu
Kabulkanlah…..kabulkanlah….

Aku buktikan pada mereka, bahwa aku bisa…bisa…
Walau penderitaan itu sulit tuk dilupakan
ter lalu sakit, luka yang membekas dalam tetesan air mataku
Aku hanya bermohon pada-Mu cabutlah nyawaku atau berilah aku kesempatan

#Aboe Akbar Abi#

22 November 2011

Idul Kurban "Antara Kanyaah jeung Kataatan"

oleh Aboe Akbar Abi pada 31 Oktober 2011 jam 17:16


Tanggal 10 Djulhijjah disyareatkeun ku Alloh SWT minangka waktu pikeun dziir ka Mantenna. Nyeueurkeun dzikir ka Alloh, ngarupakeun bukti kata’juban urang kana sagala ciptaan katut irodat Alloh dina patalina jeung kahirupan manusa.

Dina tanggal 10 Djulhijjah aya syareat Alloh nu parantos disunnahkeun ku Rosulullah SAW sangkan dilakonan ku sakumna umat Islam pikeun ngalaksanakeun sholat idul adha nu diteraskeun ku Udhiyah (meuncit) kurban. Anapon jalma anu keur ngalakonan ibadah haji aranjeunna saparantos wukuf di arofah terus maledog Jumrotul Aqobah di Mina tujuh kali bari maca takbir.

Amalan ibadah diluhur ngarupakeun rekontruksi tina perbuatan anu dilakonan ku Nabi Ibrohim as. Sarengsena ngalaksanaeun sholat Idul Adha terus meuncit kurban, mangka urang the lir ibarat actor maen film nu keur merankeun tokoh Ibrohim .nalika anjeunna meuncit ismail putrana. Minangka bukti kasatiaan katut kataatan ka Alloh SWT. Nyakitu deui nu keur ngalaksanaken ibadah haji dina watu maledog jumrotul aqobah, Mangka aranjeunna eta teh keur merankeun Siti Hajar nalika anjeunna maledog / ngusir ka setan.

Kulantaran jadi actor pikeun merankeun Nabi Ibrohim jeung Siti hajar nyakitu deui Ismail. Ku sabab kitu urang kudu bisa ngajiwaan sikep, pandangan jeung cita-cita aranjeunna. Urang sadayana diperedih kudu “menghayati” kahirupan kulawarga bisa ngabuahkeun kataatan tur kasatiaan ka Alloh taala.

Sangkan urang bisa menghayati kahirupan katut sikep sarta sifat Nabi Ibrohim nu dipiharep ngabuaheun amal ibadah urang, maka urang kudu nganyahokeun heula kana “karate” Nabi Ibrohim. Pikeun nganyahokeun sifat sarta tobeat Nabi Ibrohim as , Alloh parantos ngabewaraeun ka urang sadayana nyaeta tina Qur’an surat al-Mumtahanah ayat opat, nu hartosna :
“sabenerna dina kahirupan Ibrohim aya conto anu hade pikeun aranjeun” (Al-Mumtahanah : 4)
Dina ayat nembe eces tur tembres pisan yen Nabi Ibrohim as teh aya conto nu udu di alap pelajaran, diantarana N. Ibrohim kagungan sikep nu tegas, teu nyampurkeun nu haq jeung batil, antara Tauhid jeung syiriq, kawantun anjeunna tetela wani nyatakeun salah sanajan ka panguasa (Raja) nu dholim. Tina jiwa Ibrohim as teu aya saeutik oge rasa oportunis (leletak) ka panguasa lantaran hayng kapake. Tah sifat nu kitu diantarana nu disebut Uswatun Hasanah conto nu hade nu kudu di teladani ku urang sadayana.
Bersihna aqidah tina kasyirikan, pengkuhna sikap dina nanjeurkeun hak, leberna wawanen dina amal ma’ruf nahyi munkar, istiqomah tina mertahankeun ayakinan jeung pamadegan kudu leuwih diheulakeun sangkan jadi “kapribadian” urang sangkan ngarasa hampang ngalaksanakeun tugas ti Alloh SWT.
Ujian nu di paparinkeun Alloh taala nyata kacida beuratna, yen N. Ibrohim kudu meuncit putrana ku anjeun . mung ibrohim lulus banglus tiasa nyumponan parentah Alloh. Nyakitu deui pikeun Ismail as jeung Siti hajar aranjeunna masrahkeun dirina pikeun dipake lambang kataatan katut kasatiaan ka Alloh SWT sanajan kudu perlaya jiwa jeung berhasil merangan pangaruh setan nu geus ngajadikeun ragu kana parentah Alloh diantarana ku dibalegogan (maledog jumroh).

Nu kalaman ku urang kiwari, pikiran urang teu sirikna ditomplokeun pikeun mikiran kumaha carana sangkan perjuangan anu luhung Nabi Ibrohim sakulawarga nyaeta ngalaksanakeun parentah Alloh ta’ala “tertanam” tina diri urang, kumaha carana urang bisa ngajauhkeun tina kamaksiatan katut kabatilan salian ti eta kumaha carana urang bisa nutupan abocoran-kabocoran anu nyelewenga dina aturan sarta terus ngaronjetkeun produksi saloba-lobana sebagai inventaris amal anu langgeung .

Dina ngalaksanakeun parentah Alloh nu mangrupa amal soleh, saperti : sholat, infaq, sodaqoh, kurban, haji. Kacida hadena mun dibarengan ku ninggalkeun sagala rupa kamaksiatan, kamusyrikan jeung kabatilan-kabitalan nu sejena nu matak nyieun rugi kana diri urang sorangan. Tapi orokaya mun produksi ditingkatkeun tapi panyelewengan masih dilakukeun, parentah Alloh dipigawe cegahanana dikeureuyeuh, jalma nu model kitu teu aya bedana jeung hiji awewe nu ninun kaen, saeunggeus beres tur kuat terus kumanehna diudar deui (Qs. An-Nahl :93) cape gawe teu kapake.

Aya hikmah tasyri nu kudu dijadikeun ibroh tina peristiwa kurban Nabi Ibrohim as nyaeta meuncit putra semata wayangna, mun diukur kurarasaan saha pijalmaeunana nu teu nyaah kanu hiji anak, tapi Ibrohim yakin Alloh leuwih nyaah kaanjeuna jeung ka putrana. Eta ngabuktikeun Ibrohim pasrah tumarima kana parentah Alloh ta’ala sadar kana diri inget temah wadi lir diri teu boga nu dipika risi sadaya kagungan gusti nu maha suci. Peryogi diuninga kuurang sadaya teu patos Alloh maparin parentah sanajan pait peuheur karasana tapi saestuna aya Hikmah nu kacida gedena. Conto parantos ka alaman ku jungjunan Nabi Ibrohim as anjeuna lulus banglus ngayakinkeun sagala parentah Alloh moal aya nu ngandung bahaya, buktosna kudu meuncit jalma (putrana) akhirna di gantiaan ku domba nu hikmahna eta daging domba bisa ngabantu ngasejahteraken urang sadayana.
Wallohu`alam bis showab (AAA 31 / 10/ 2011)

Tafakur (Merenung) Sebagai Jalan Masuknya Hikmah



oleh Aboe Akbar Abi pada 4 November 2011 jam 14:21
Adalah akan jauh lebih baik, bila saudara-saudaraku menemukan kebenaran dari hasil perenungan sendiri daripada menerima suatu kebenaran dari orang lain (pepatah Barat mengatakan : “I hear I forget, I see I Know, I do I Understand” yang artinya kurang lebih “Aku Dengar Aku Lupakan, Aku Lihat Aku Mengetahui, Aku Melakukan Aku Pahami”.
Menerima kebenaran dan menemukan kebenaran adalah sesuatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqliq atau ‘mengikut’, sedangkan menemukan kebenaran hanya akan diperoleh melalui perenungan demi perenungan yang mendalam.

Sudah menjadi sunatullah bahwa kebenaran yang ditemukan sendiri, ibarat mata air yang tak pernah kering; sedangkan kebenaran yang kita terima dari manusia, ibarat hujan di musim kemarau. Tentu saja yang dimaksud dengan kebenaran disini bukanlah kebenaran dalam konteks seperti dua tambah dua sama dengan empat, tetapi maksudnya adalah kebenaran yang sifatnya memberikan “pencerahan” bagi jiwa; misalnya saja. “perbuatan maksiat itu artinya sama dengan menanda tangani kontrak untuk tinggal di neraka”.

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata :
“Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu mengetahui siapa tokohnya”

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahkan al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal” Qs. Al-Baqoroh :269

Nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya : “Wahai anakku, sesungguhnya hikmah itu mendudukkan orang-orang miskin di tempat para raja”
Raja sebagai gambaran orang yang tidak pernah susah. Orang miskin pun dapat merasakan bahagia bila memiliki banyak hikmah. Hikmah menggambarkan “pencerahan” jiwa, yaitu yang akan berfungsi mengendalikan ketentraman. Sebagai contoh orang yang jiwanya telah tercerahkan bahwa segala yang menimpanya pasti berasal dari keputusan Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang dan Maha Adil, maka niscaya ia tidak akan mudah goyah bila ditimpa musibah. Ia akan pasrah, ketentramannya pun tidak terusik.

Seperti halnya rezeki, maka hikmah inipun hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya; yaitu yang mau menggunakan kemampuan AKAL dan RASA yang dimilikinya untuk bertafakur. Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata : “Tiada ilmu yang lebih baik daripada hasil tafakur”. Dan di dalam Al-Qur’an pun, ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berfikir (antara lain pada surat Shaad:29, Adz-Dzariyaat:20-21, Yunus:24); serta kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau berfikir (Al-Furqan:44, Al-A’raaf:179, Al-Mulk:10).

Tafakur sudah terbukti merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan, maka hati akan gelap gulita. Orang yang serius merenungi tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan ; atau apa pun tentang sakratulmaut, siksa kubur, maupun kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan mendapatkan pencerahan jiwa. Demikian besar keutamaan bertafakur, sehingga Rasulullah pun pernah bersabda: “Bertafakur sejenak lebih baik daripada ibadah satu tahun”. Mengapa Rasulullah berwasiat demikian?, sebagaimana peringatan tegas Allah dalam Al-Qur’an : “Dan sesungguhnya kami ciptakan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami, mempunyai mata tidak dipergunakan untuk melihat, mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.[Al-A’raaf(7):179]

Seorang ulama besar bernama Hasan Al-Basryi pernah berkata : “Tafakur itu seperti cermin yang dapat menunjukkan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat kagungan dan kebesaran Allah Yang Maha Tinggi. Disamping itu, dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda yang diberikan Allah, baik yang jelas maupun yang samar, sehingga akhirnya ia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepadaNya.”

Apa yang harus ditafakuri ?
Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Illahiyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain :
a. Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah; akan lahir darinya rasa tawadhu (rendah hati) dan rasa takzim akan keagungan Allah.
b. Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan; akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah,
c. Bertafakur tentang janji-janji Allah; akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat,
d. Bertafakur tentang ancaman Allah; akan lahir darinya rasa takut kepada Allah,
e. Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Ia selalu mencurahkan karunianya kepada kita; akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.

Salah satu contoh tafakur :
Bila direnungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernafas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan !
Ketika gigi kita tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun Engkau berikan gigi itu, baru sekarang disadari artinya ketika dia copot. Satu gigi menjadi begitu bernilainya, lalu bagaimana dengan tangan, hidung, mata, telinga dan otak ?
Dengan bertafakur seperti ini, akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh.

Namun, mengerti atau mengenal “kebenaran” saja tidaklah cukup. Karena Al-Qur’an mengatakan, bahwa orang yang terhindar dari “kerugian” adalah mereka yang memenuhi 4 kriteria :

Pertama, yang mengenal kebenaran
Kedua, yang mengamalkan kebenaran
Ketiga, yang saling nasehat menasehati mengenai kebenaran, dan
Keempat, yang sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran.

Wallohu`alam bis showab

KESETIAKAWANAN SOSIAL DALAM PANDANGAN AL-QURAN

oleh Aboe Akbar Abi pada 5 November 2011 jam 18:48


Perbincangan di seputar kesetiakawanan atau yang juga dikenal dalam bahasa Ingrris dengan sebutan solidarity, hingga kini menjadi sebuah diskusi yang masih menarik, dan ditengarai akan selalu menarik perhatian setiap anggota masyarakat, karena artipentingnya pranata social ini sebagai pilar penyangga bangunan harmoni sosial, di mana pun kapan pun dan bagi siapa pun
Memang tidak mudah untuk mendefinisikan makna kesetiakawanan sosial dalam konteks yang beragam. Tetapi, untuk sekadar memetakan pengertian esensialnya, kesetiakawanan adalah sebuah pranata sosial yang di dalamnya terkandung ciri-ciri penting, yaitu: kepedulian, rasa sepenanggungan, kasih sayang, kebersamaan dan ketulusan.[1]
Sejumlah tantangan kompleks yang muncul-termasuk potensi konflik yang ditimbulkan oleh dorongan ego setiap manusia, yang pada saatnya bisa menjebak mereka menjadi manusia-manusia yang tidak peduli terhadap kepentingan orang lain, karena menganggap yang terpenting adalah dirinya. Sedang orang lain baru dianggap (menjadi) menjadi penting karena berpotensi “menguntungkan” bagi dirinya.[2] Oleh karena itu, untuk membangun kesetiakawanan sosial, setiap orang, sebagai anggota mansyarakat, dituntut untuk memiliki kepedulian dan ketenggangrasaan terhadap orang lain, dan bahkan menganggap orang lain sebagai entitas yang penting, sepenting dirinya.[3]
Dalam merespon wacana kesetikawanan (sosial) tersebut, kita (umat Islam) bisa mengajak dialog dengan al-Quran, sebagaimana nasihat Ali bin Abi Thalib terhadap para sahabatnya: istanthiq al-Quran, yang ternyata menurut M. Quraish Shihab[4] tersirat dalam gagasan “ukhuwwah”.[5]
Kajian mengenai ukhuwah (Ar.: Ukhuwwah), dalam pandangan M. Quraish Shibab, menjadi dianggap memiliki arti penting dewasa ini, karena adanya fenomena yang sangat meresahkan: sinyal-sinyal menuju “disintegrasi sosial”. Banyak orang mempertanyakan: “sejaumana peran Islam di dalamnya?” Di sini, Islam menawarkan gagasan “ukhuwah Islamiyah”. Bukan sekadar penjelasan normatif, tetapi sampai pada solusi atas problem sosial yang sudah pernah, sedang dan akan dialami oleh umat manusia secara kongkret.
Kata Ukhuwah (ukhuwwah) yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”, terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti “memperhatikan”. Makna asal ini memberi kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan”. Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa Arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwwah digunakan juga dengan arti “teman akrab” atau “sahabat”.
Ukhuwah dalam al-Quran
Dalam al-Quran, kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 (lima puluh dua) kali. Kata ini dapat berarti:
Saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya:[6]
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu[7]; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
2. Saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti (redaksi) doa Nabi Musa a.s. yang diabadikan al-Quran:[8]
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي هَارُونَ أَخِي
3. Saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya,[9]
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Seperti telah diketahui kaum ‘Ad membangkang terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud, sehingga Allah memusnahkan mereka (baca antara lain:[10]
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَة سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَة ٍ
4. Saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham.[11]
إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ
5. Persaudaraan seagama.[12]
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dari pembahasana kebahasaan ini kita temukan lagi dua macam ragama persaudaraan, yang walaupun secara tegas tidak disebut oleh al-Quran sebagai “persaudaraan”, namun substansinya adalah persaudaraan. Kedua hal tersebut adalah:
1. Saudara sesama manusia (ukhuwwah insâniyyah).
Al-Quran menyatakan bahwa semua manusia diciptakan oleh Allah dari seorang lelaki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa)[13]
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
2. Saudara sesama makhluk dan seketundukan kepada Allah.
Di atas telah dijelaskan bahwa dari segi bahasa kata akh (saudara) digunakan pada berbagai bentuk persamaan. Dari sini 1ahir persaudaraan kesemakhlukan. Al-Quran secara tegas menyatakan:[14]
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُون
Ragam Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah, dalam pandangan M. Quraish Shihab, lebih tepat dimaknai sebagai ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Telah dikemukakan pula beberapa ayat yang mengisyaratkan bentuk atau jenis “persaudaraan” yang disinggung oleh al-Quran. Semuanya dapat disimpulkan bahwa kitab suci ini memperkenalkan paling tidak empat macam persaudaraan:
Ukhuwwah ‘ubûdiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
Ukhuwwah insâniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara, karena mereka semua berasal dari seorang ayah dan ibu.
Ukhuwwah wathaniyyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
Ukhuwwah fi dîn al-Islâm, persaudaraan antarsesama Muslim.
Makna dan macam-macam persaudaraan tersebut di atas adalah berdasarkan pemahaman terhadap teks ayat-ayat al-Quran. Ukhuwah yang secara jelas dinyatakan oleh al-Quran adalah persaudaraan seagama Islam, dan persaudaraan yang jalinannya bukan karena agama. Ini tecermin dengan jelas dari pengamatan terhadap penggunaan bentuk jamak kata tersebut dalam al-Quran, yang menunjukkan dua arti kata akh, yaitu:
Pertama, ikhwan, yang biasanya digunakan untuk persaudaraan tidak sekandung. Kata ini ditemukan sebanyak 22 (dua puluh dua) kali sebagian disertakan dengan kata ad-dîn (agama) seperti dalam firmanNya.[15]
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Apabila mereka bertobat, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka adalah saudara-saudara kamu seagama.
Sedangkan sebagian lain tidak dirangkaikan dengan kata ad-dîn (agama) seperti:[16]
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Teks ayat-ayat tersebut secara tegas dan nyata menunjukkan bahwa al-Quran memperkenalkan persaudaraan seagama dan persaudaraan tidak seagama.
Bentuk jamak kedua yang digunakan oleh al-Quran adalah ikhwah, terdapat sebanyak 7 (tujuh) kali dan digunakan untuk makna persaudaraan seketurunan, kecuali satu ayat, yaitu,[17]
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Menarik untuk dipertanyakan, mengapa al-Quran menggunakan kata ikhwah dalam arti persaudaraan seketurunan ketika berbicara tentang persaudaraan sesama Muslim, atau dengan kata lain, mengapa al-Quran tidak menggunakan kata ikhwan, padahal kata ini digunakan untuk makna persaudaraan tidak seketurunan? Bukankah lebih tepat menggunakan kata terakhir, jika melihat kenyataan bahwa saudara-saudara seiman terdiri dari banyak bangsa dan suku, yang tentunya tidak seketurunan?
Menurut M. Quraish Shihab, hal ini bertujuan untuk mempertegas dan mempererat jalinan hubungan antar sesama Muslim, seakan-akan hubungan tersebut bukan saja dijalin oleh keimanan (yang di dalam ayat itu ditunjukkan oleh kata al-mu’minûn), melainkan juga “seakan-akan” dijalin oleh persaudaraan seketurunan (yang ditunjukkan oleh kata ikhwah). Sehingga merupakan kewajiban ganda bagi umat beriman agar selalu menjalin hubungan persaudaraan yang harmonis di antara mereka, dan tidak satu pun yang dapat dijadikan dalih untuk melahirkan keretakan hubungan.
Faktor Penunjang Persaudaraan
Faktor penunjang lahirnya persaudaraan dalam arti luas ataupun sempit adalah persamaan. Semakin banyak persamaan akan semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan rasa dan cita merupakan faktor dominan yang mendahului lahirnya persaudaraan hakiki, dan pada akhirnya menjadikan seseorang merasakan derita saudaranya, mengulurkan tangan sebelum diminta, serta memperlakukan saudaranya bukan atas dasar “take and give,” tetapi justeru “mengutamakan orang lain atas diri mereka”, walau diri mereka sendiri kekurangan. Sebagaimana firman Allah:[18]
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial, perasaan tenang dan nyaman pada saat berada di antara sesamanya, dan dorongan kebutuhan ekonomi merupakan faktor-faktor penunjang yang akan melahirkan rasa persaudaraan.
Islam datang menekankan hal-hal tersebut, dan menganjurkan mencari titik-singgung dan titik-temu persaudaraan. Jangankan terhadap sesama Muslim, terhadap non-Muslim pun demikian. Sebagaimana firman Allah berikut:[19]
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
dan[20]
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ – قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Petunjuk al-Quran Untuk Memantapkan Ukhuwah
Guna memantapkan ukhuwah tersebut, pertama kali al-Quran menggarisbawahi bahwa perbedaan adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Selain perbedaan tersebut merupakan kehendak Ilahi, juga demi kelestarian hidup, sekaligus demi mencapai tujuan kehidupan makhluk di pentas bumi.[21]
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا ءَاتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Seandainya Tuhan menghendaki kesatuan pendapat, niscaya diciptakan-Nya manusia tanpa akal budi seperti binatang atau benda-benda tak bernyawa yang tidak memiliki kemampuan memilah dan memilih, karena hanya dengan demikian seluruhnya akan menjadi satu pendapat.
Dari sini, seorang Muslim dapat memahami adanya pandangan atau bahkan pendapat yang berbeda dengan pandangan agamanya, karena semua itu tidak mungkin berada di luar kehendak Ilahi. Kalaupun nalarnya tidak dapat memahami kenapa Tuhan berbuat demikian, kenyataan yang diakui Tuhan itu tidak akan menggelisahkan atau mengantarkannya “mati”, atau memaksa orang lain secara halus maupun kasar agar menganut pandangan agamanya,[22]
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى ءَاثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Untuk menjamin terciptanya persaudaraan dimaksud, Allah Swt. memberikan beberapa petunjuk sesuai dengan jenis persaudaraan yang diperintahkan. Pada kesempatan ini, akan dikemukakan petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan persaudaraan secara umum dan persaudaraan seagama Islam.
1. Untuk memantapkan persaudaraan pada arti yang umum, Islam memperkenalkan konsep khalifah. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah. Kekhalifahan menuntut manusia untuk memelihara, membimbing, dan mengarahkan segala sesuatu agar mencapai maksud dan tujuan penciptaannya. Karena itu, Nabi Muhammad Saw. melarang memetik buah sebelum siap untuk dimanfaatkan, memetik kembang sebelum mekar, atau menyembelih binatang yang terlalu kecil. Nabi Muhammad Saw. juga mengajarkan agar selalu bersikap bersahabat dengan segala sesuatu sekalipun terhadap benda tak bernyawa. Al-Quran tidak mengenalkan istilah “penaklukan alam”, karena secara tegas al-Quran menyatakan bahwa yang menaklukkan alam untuk manusia adalah Allah,[23]
وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Secara tegas pula seorang Muslim diajar untuk mengakui bahwa ia tidak mempunyai kekuasaan untuk menundukkan sesuatu kecuali atas penundukan Ilahi. Pada saat berkendaraan seorang Muslim dianjurkan membaca, Mahasuci Allah yang menundukkan ini buat kami, sedang kami sendiri tidak mempunyai kesanggupan menundukkannya,[24]
لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
2. Untuk mewujudkan persaudaraan antarpemeluk agama, Islam memperkenalkan ajaran,[25]
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
dan:[26]
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ ءَامَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Al-Quran juga menganjurkan agar mencari titik-singgung dan titik-temu antarpemeluk agama. Al-Quran menganjurkan agar dalam interaksi sosial, bila tidak ditemukan persamaan hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain, dan tidak perlu saling menyalahkan.[27]
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Bahkan al-Quran mengajarkan kepada Nabi Muhammad Saw. dan umatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain, setelah “kalimah sawa’ (titik-temu)” tidak dicapai:[28]
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ(24) قُلْ لَا تُسْأَلُونَ عَمَّا أَجْرَمْنَا وَلَا نُسْأَلُ عَمَّا تَعْمَلُونَ- قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ
Jalinan persaudaraan antara seorang Muslim dan non-Muslim sama sekali tidak dilarang oleh Islam, selama pihak lain menghormati hak-hak umat Islam.
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Ketika sebagian sahabat Nabi memutuskan bantuan keuangan/material kepada sebagian penganut agama lain dengan alasan bahwa mereka bukan Muslim, al-Quran menegur mereka dengan firman-Nya:[29]
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
3. Untuk memantapkan persaudaraan antarsesama Muslim, al-Quran pertama kali menggarisbawahi perlunya menghindari segala macam sikap lahir dan batin yang dapat mengeruhkan hubungan di antara mereka.
Setelah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman bersaudara, dan memerintahkan untuk melakukan ishlâh (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara dua orang (kelompok) kaum Muslim, al-Quran memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap Muslim melakukannya:[30]
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Selanjutnya ayat di atas memerintahkan orang yang beriman (mu’min; pl.: mu’minûn) untuk menghindari prasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, serta menggunjing, yang diibaratkan oleh al-Quran seperti memakan daging-saudara sendiri yang telah meninggal dunia.[31]
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Menarik untuk diketengahkan, bahwa al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. tidak merumuskan definisi persaudaraan (ukhuwwah), tetapi yang ditempuhnya adalah memberikan contoh-contoh praktis. Pada umumnya contoh-contoh tersebut berkaitan dengan sikap kejiwaan, atau tecermin — misalnya — dalam hadis Nabi Saw. antara lain,[32]
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Semua itu wajar, karena sikap batiniahlah yang melahirkan sikap lahiriah. Demikian pula, bahwa sebagian dari redaksi ayat dan hadis yang berbicara tentang hal ini dikemukakan dengan bentuk larangan. Ini pun dimengerti bukan saja karena at-takhliyah (menyingkirkan yang jelek) harus didahulukan daripada at-tahliyah (menghiasi diri dengan kebaikan), melainkan juga karena “melarang sesuatu mengandung arti memerintahkan lawannya, demikian pula sebaliknya.”
Semua petunjuk al-Quran dan hadis Nabi Saw. yang berbicara tentang interaksi antarmanusia pada akhirnya bertujuan untuk memantapkan ukhuwah. Perhatikan — misalnya — larangan melakukan transaksi yang bersifat batil,[33]
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Larangan riba,[34]
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Anjuran menulis utang-piutang,[35]
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلَّا تَرْتَابُوا إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Larangan mengurangi atau melebihkan timbangan,[36]
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ(1) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ(3)
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang,(1) (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,(2) dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.(3)” (QS al-Muthaffifîn [83]: 1-3), dan lain-lain.
Dalam konteks pendapat dan pengamalan agama, al-Quran secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk merujuk Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnah). Tetapi seandainya terjadi perbedaan pemahaman al-Quran dan Sunnah itu, baik mengakibatkan perbedaan pengamalan maupun tidak, maka petunjuk al-Quran dalam hal ini adalah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Konsep-konsep Dasar Pemantapan Ukhuwah
Setelah mempelajari teks-teks keagamaan, M. Quraish Shihab menyatakan bahwa para ulama mengenalkan tiga konsep untuk memantapkan ukhuwah menyangkut perbedaan pemahaman dan pengamalan ajaran agama.
a. Konsep tanawwu’ al-’ibâdah (keragaman cara beribadah).
Konsep ini mengakui adanya keragaman yang dipraktikkan Nabi Saw. dalam bidang pengamalan agama, yang mengantarkan kepada pengakuan akan kebenaran semua praktik keagamaan, selama semuanya itu merujuk kepada Rasulullah Saw. Anda tidak perlu meragukan pernyataan ini, karena dalam konsep yang diperkenalkan ini, agama tidak menggunakan pertanyaan: “Berapaka hasil 5 + 5?”, melainkan yang ditanyakan adalah, “Jumlah sepuluh itu merupakan hasil penambahan berapa tambah berapa?”
b. Konsep al-mukhti’u fî al-ijtihâd lahû ajr (Yang salah dalam berijtihad pun [menetapkan hukum] mendapat ganjaran).
Ini berarti bahwa selama seseorang mengikuti pendapat seorang ulama, ia tidak akan berdosa, bahkan tetap diberi ganjaran oleh Allah Swt., walaupun hasil ijtihad yang diamalkannya keliru. Hanya saja di sini perlu dicatat bahwa penentuan yang benar dan salah bukan wewenang makhluk, tetapi wewenang Allah Swt. sendiri, yang baru akan diketahui pada hari kemudian. Sebagaimana perlu pula digarisbawahi, bahwa yang mengemukakan ijtihad maupun orang yang pendapatnya diikuti, haruslah memiliki otoritas keilmuan, yang disampaikannya setelah melakukan ijtihad (upaya bersungguh-sungguh untuk menetapkan hukum) setelah mempelajari dengan saksama dalil-dalil keagaman (al-Quran dan Sunnah).
c. Konsep lâ hukma lillâh qabla ijtihâd al-mujtahid (Allah belum menetapkan suatu hukum sebelum upaya ijtihad dilakukan oleh seorang mujtahid).
Ini berarti bahwa hasil ijtihad itulah yang merupakan hukum Allah bagi masing-masing mujtahid, walaupun hasil ijtihadnya berbeda-beda. Sama halnya dengan gelas-gelas kosong, yang disodorkan oleh tuan rumah dengan berbagai ragam minuman yang tersedia. Tuan rumah mempersilakan masing-masing tamunya memilih minuman yang tersedia di atas meja dan mengisi gelasnya — penuh atau setengah — sesuai dengan selera dan kehendak masing-masing (selama yang dipilih itu berasal dari minuman yang tersedia di atas meja). Apa dan seberapa pun isinya, menjadi pilihan yang benar bagi masing-masing pengisi. Jangan mempersalahkan seseorang yang mengisi gelasnya dengan kopi, dan Anda pun tidak wajar dipersalahkan jika memilih setengah air jeruk yang disediakan oleh tuan rumah.
Memang al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. tidak selalu memberikan interpretasi yang pasti dan mutlak. Yang mutlak adalah Tuhan dan firman-firman-Nya, sedangkan interpretasi firman-firman itu, sedikit sekali yang bersifat pasti ataupun mutlak. Cara kita memahami al-Quran dan Sunnah Nabi berkaitan erat dengan banyak faktor, antara lain lingkungan, kecenderungan pribadi, perkembangan masyarakat, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan tentu saja tingkat kecerdasan dan pemahaman masing-masing mujtahid.
Dari sini terlihat bahwa para ulama sering bersikap rendah hati dengan menyebutkan, “Pendapat kami benar, tetapi boleh jadi keliru, dan pendapat Anda menurut hemat kami keliru, tetapi mungkin saja benar.” Berhadapan dengan teks-teks wahyu, mereka selalu menyadari bahwa sebagai manusia mereka memiliki keterbatasan, dan dengan demikian, tidak mungkin seseorang akan mampu menguasai atau memastikan bahwa interpretasinyalah yang paling benar.
Ukhuwah Dalam Praktik
Jika kita mengangkat salah satu ayat dalam bidang ukhuwah, agaknya salah satu ayat dalam surat al-Hujurât dapat dijadikan landasan pengamalan konsep ukhuwah Islamiyah. Ayat yang dimaksud adalah,[37]
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Kata ishlâh atau shalâh yang banyak sekali berulang dalam al-Quran, pada umumnya tidak dikaitkan dengan sikap kejiwaan, melainkan justeru digunakan dalam kaitannya dengan perbuatan nyata. Kata ishlâh hendaknya tidak hanya dipahami dalam arti mendamaikan antara dua orang (atau lebih) yang berselisih, melainkan harus dipahami sesuai makna semantiknya dengan memperhatikan penggunaan al-Quran terhadapnya.
Puluhan ayat berbicara tentang kewajiban melakukan shalâh dan ishlâh. Dalam kamus-kamus bahasa Arab, kata shalâh diartikan sebagai antonim dari kata fasâd (kerusakan), yang juga dapat diartikan sebagai yang bermanfaat. Sedangkan kata ishlâh digunakan oleh al-Quran dalam dua bentuk: Pertama, ishlâh yang selalu membutuhkan objek; dan kedua, adalah shalâh yang digunakan sebagai bentuk kata sifat. Sehingga, shalâh dapat diartikan terhimpunnya sejumlah nilai tertentu pada sesuatu agar bermanfaat dan berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan kehadirannya. Apabila pada sesuatu ada satu nilai yang tidak menyertainya hingga tujuan yang dimaksudkan tidak tercapai, maka manusia dituntut untuk menghadirkan nilai tersebut, dan hal yang dilakukannya itu dinamai ishlâh.
Jika kita menunjuk hadis, salah satu hadis yang populer di dalam bidang ukhuwah adalah sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar:[38]
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari riwayat at-Tirmidzi dari Abu Hurairah, larangan di atas dilengkapi dengan,[39]
لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ
Dia tidak mengkhianatinya, tidak membohonginya, dan tidak pula meninggalkannya tanpa pertolongan.
Demikian terlihat, betapa ukhuwah Islamiyah mengantarkan manusia mencapai hasil-hasil kongkret dalam kehidupannya.
Untuk memantapkan ukhuwah Islamiyah, yang dibutuhkan bukan sekadar penjelasan segi-segi persamaan pandangan agama, atau sekadar toleransi mengenai perbedaan pandangan, melainkan yang lebih penting lagi adalah langkah-langkah bersama yang dilaksanakan oleh umat, sehingga seluruh umat merasakan nikmatnya.
Implementasi konsep ukhuwah (Islamiyah) dalam pandangan al-Quran memerlukan kesadaran setiap orang untuk bersinergi, dan tidak mungkin akan terwujud di ketika setiap orang – dalam bangunan sosial – menerjemahkannya dalam bentuk sikap anergis.
Manifestasi persaudaraan Islam ini telah dicontohkan dengan gemilang oleh Nabi dan para sahabatnya. Dalam bentuk saling menolong oleh siapa pun kepada siapa pun. Sebagai wujud kesaadaran untuk mengamalkan pesan moral al-Quran.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, al-Maktabah al-Syâmilah, Ishdâr Tsânî, UEA: Shakhr, 2007.
http://www.media.isnet.org
http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=963
http://www.vitanouva.net/index.php?topic=1495.0
http://www.sejutablog.com/egoisme-penyebab-kerusakan-alam-lingkungan/
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an (Bandung: Mizan), 1992.
——, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati), 2002.
——,Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan), 2005.
[1] http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=963.
[2] http://www.vitanouva.net/index.php?topic=1495.0
[3] http://www.sejutablog.com/egoisme-penyebab-kerusakan-alam-lingkungan/
[4] Makalah ini sepenuhnya ditulis berdasarkan paparan yang telah dituangkan dalam ketiga judul buku oleh M. Quraish Shihab: Tafsir al-Mishbah, Membumikan al-Quran dan Wawasan al-Quran.
[5] Lebih lanjut lihat: M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran (Jakarta: Lentera Hati), 2002; Membumikan Al-Qur’an(Bandung: Mizan), 1992; Wawasan Al-Qur’an (Bandung: Mizan), 2005.
[6] QS an-Nisâ’ [4]: 23
[7] Maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut jumhur ulama Termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.
[8]QS Thâhâ [20]: 29-30
[9] QS al-A’râf [7]: 65
[10] QS al-Hâqqah [69]: 6-7
[11] QS Shâd [38]: 23
[12] QS al-Hujurât [49: 10
[13] QS al-Hujurât [49]: 13
[14] QS al-An’âm [6]: 38
[15] QS at-Taubah [9]: 11
[16] QS al-Baqarah [2]: 220
[17] QS a1-Hujurât [49]: 10
[18] QS al-Hasyr [59]: 9
[19] QS Âli ‘Imrân [3]: 64
[20] QS Saba’ [34): 24-25
[21] QS al-Mâidah [5]: 48
[22] QS al-Kahfi [18]: 6; (QS Yunus [10]: 99
[23] QS al-Jâtsiyah [45]: 13
[24] QS al-Zukhruf [43]: 13
[25] QS al-Kâfirûn [109]: 6
[26] QS Al-Syûrâ [42): 15
[27] QS Âli ‘Imrân [3]: 64
[28] QS Saba’ [34]: 24-26
[29] QS al-Baqarah [2]: 272
[30] QS al-Hujurât [49]: 11
[31] QS al-Hujurât [49]: 12
[32] (جامع الأصول في أحاديث الرسول – (ج 6 / ص 523)
[33] QS al-Baqarah [2]: 275
[34] QS al-Baqarah [2]: 275
[35] QS al-Baqarah [2]: 282
[36] QS al-Nisâ’ [4]: 59
[37] QS al-Hujurât [49]: 10
[38] الجمع بين الصحيحين البخاري ومسلم – ج 2 / ص 120
[39] سنن الترمذي – ج 4 / ص 325

MENELADANI LEBAH (Serangga)



Lebah adalah salah satu mahluk Alloh swt yang luar biasa. Sehingga namanyapun diabadikan-Nya menjadi salah satu surat dalam Al-Qur’an (An-Nahl). Bukan saja madunya yang berkhasiat, namun perilakunyapun mengilhami banyak orang dalam berkerja. Salah sisi lain yang dapat diteladani dari seekor lebah sebagaimana kisah dari seorang zuhud, ia pun mengatakan :
“Aku tidak mengetahui bahwa ada orang yang mendengarkan tentang surge dan neraka yang membiarkan satu saat dalam hidupnya berlalu tanpa mentaati Alloh dengan berdzikir, mengerjakan sholat, membaca Al-Qur’an atau berbuat kebajikan”.
Lalu seorang tersebut berkata padanya “Tetapi aku banyak menangis”
Ia berkata : “Sungguh jika engkau tertawa namun menyadari kesalahanmu itu lebih baik daripada engkau menangis namun merasa bangga dengan amalanmu. Sebab seorang pembangga amalannya tidak akan naik melebihi kepalanya saja”.
“Kalau begitu nasehatilah aku!” kata orang itu.
Sang Zahid itu pun berkata : “Biarkanlah dunia itu untuk pemiliknya sebagaimana mereka juga membiarkan akhirat untuk pemiliknya. Sementara engkau, hiduplah di dunia ini bagaikan lebah. Bila makan, makanlah yang baik. Bila member makan, berilah yang baik pula. Dan jika engkau jatuh menimpa sesuatu, engkau tidak mematahkan dan merusaknya”.
(kitab Al-Fawa’id)

21 November 2011

Search - Fantasia Bulan Madu



Fantasia Bulan Madu

Demi cintaku pada mu
Ke mana saja kan ku bawa
Ku hujung dunia ke bintang
Kejora

Demi cintaku padamu
Kukorbankan jiwa dan raga
Biar pun harus ku telan
Lautan bara

Bulan madu di awan biru
Tiada yang menggangu
Bulan madu di atas pelangi
Hanya kita berdua
Mengecap nikmat cinta
Yang putih tak terbendung
Sesuci embun pagi

Andai dipisah
Laut dan pantai
Musnahlah ilham
Hilang pedoman

Andai dipisah
Cahaya dan bulan
Gelap gulita
Musnah asmara

LENTERA CINTA - Nicky Astria



Lentera Cintamu

Seribu kali kucoba menghindari
seribu kali kucoba tak kembali
namun langkahku menjadi kian pasti
mnatap bayangmu dalam cinta yang semu

seribu kali ku menatap gambarmu
seribu kali ku menyebut namamu
hasrat padamu kian mendesak kalbu
namun selalu aku merasakan tak mampu

kemana ku harus melangkah
jejakmu samar-samar ku ikuti
kemana ku harus melangkah
cintamu terlalu sulit untukku

terangilah kasih, lentera cintamu itu
agar ku tak jatuh dalam kegelapan
agar ku tak jatuh dalam kegelapan

agar ku tak jatuh dalam kegelapan.

nicky astria - mistery cinta



MISTERY CINTA

Kala cinta berlabuh di dermaga
Kutelusuri karang terjal berliku
Tak perduli nasib yang melukai
Aku pasrah dalam rangkulnya

Bila cinta berlumur dusta
Aku tenggelam dalam keruhnya
Sebab dia memeri ceria
Walau dia perih menyalibku

Pedihnya kemesraan yang dalam
Ada luka karena tingkahnya
Tetes darah di atas suka cita
Adalah suka lara di atas getarnya

Aku menjadi bulan atas riaknya
Aku menjadi bintang di atas gelombang
Aku jadi segala yang diinginkannya
Untuk didamparkan di pantai ini

BIAR SEMUA HILANG - NICKY ASTRIA



BIAR SEMUA HILANG


Akhirnya semua telah sirna
getar asmarapun pudar
di dalam dada
Dan diantara kita
t'lah tak ada rasa
saling seia sekata

Hari ini, atau esok lusa
kita kan berpisah
untuk selama-lamanya
Agar takkan lagi kurasa
duka derita hidup bersama

Usah lagi
perpisahan jadi beban d hati
Takkan lagi
ada harapan kita tuk kembali
Biar semua hilang
bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
usah kau sesali
Biar semua hilang
bagai mimpi-mimpi
Biar semua hilang
usah kau sesali

HIKMAH KEMATIAN

oleh Aboe Akbar Abi pada 8 November 2011 jam 12:38


Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja
Wallohu`alam bis showabsumber : Harun Yahya

SELAMAT PAGI.......

oleh Aboe Akbar Abi pada 9 November 2011 jam 7:20

Pagi adalah bagian dari waktu-waktu Allah yang terus berputar. Ia juga ungkapan yang sangat lekat dengan makna kesegaran, keceriaan, semangat, dan hidup baru. Begitu banyak makna positif yang memberi spirit dan optimisme dalam hidup, yang datang m-nyertai pagi. Mungkin masih banyak lagi hikmah dan keistimewaan di balik pujian Allah terhadapnya, “Dan demi Subuh apabila fajar-nya mulai menyingsing.” (QS At Takwir: 18), yang mungkin belum dapat kita singkap karena keterbatasan ilmu kita.

Bertemu pagi adalah sebuah keniscayaan. Tetapi mengambil manfaat dari keistimewaanya adalah sesuatu yang harus diupayakan. Jalannya hanya satu, bangun lebih pagi. Lalu mengintip apa saja kebaikan-kebaikan yang dapat kita petik di pagi itu.
Karena Suatu Pagi Bisa Merubah Hidupmu
Waktu adalah wadah pembentukan. Di sanalah garis edar hidup kita, tumbuh dan menjadi dewasa, dari lahir hingga kembali ke hadirat-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Waktu memiliki tiga makna dan dilandaskan pada tiga derajat. Di antara makna-makna itu adalah saat mampu dan benar, karena melihat cahaya karunia yang ditarik kebersihan harapan, atau karena ada perlindungan yang ditarik kebenaran ketakutan, atau karena kobaran rindu yang ditarik cinta.” (Madarijus Salikin)
Satu di antara bagian-bagian waktu yang menghimpun makna-makna itu, yang memiliki urgensi pembentukan adalah pagi. Pagi adalah simbol permulaan dan perubahan, kepada dan terhadap apa saja, termasuk babak-babak kehidupan kita.
Kisah seorang wanita Nasrani yang bersahabat dan hidup serumah dengan seorang wanita Muslimah, adalah contoh perubahan yang di bawa oleh pagi. Sahabat Muslimah si wanita tadi, sering terbangun di penghujung malam untuk melaksanakan qiyamul lail, bermunajat dan berdoa kepada Allah SWT. Terkadang, selesai berdoa ia teruskan lagi dengan tilawah Al Qur’an hingga menjelang shalat Shubuh.
Awalnya, si wanita nashrani sering merasa terganggu dengan suara temannya yang kerap menangis tersedu-sedu dalam shalat malamnya, atau saat melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, yang begitu asing di telinganya. Suara “berisik” itulah yang sering memangkas jatah tidurnya.
Tetapi lama-kelamaan, dalam diamnya ia mulai menyimpan rasa cemburu dan kagum kepada sahabatnya ini. Betapa tidak, sebagai seorang yang beragama ia merasa tidak begitu akrab dengan tuhannya. Jauh berbeda dengan sahabatnya yang selalu rajin menyapa Sang Penciptanya di kala orang-orang masih terlelap dalam tidurnya. Ia kagum karena sahabatnya begitu mudah terbangun di waktu pagi dan menyelesaikan sebagian tugas-tugasnya, sementara dia sendiri terkadang baru beranjak dari kasur empuknya saat matahari sudah meninggi.
Di sinilah awal mula hidayah itu datang, di gelapan subuh, di tengah dinginnya udara pagi, rasa cemburunya menyeruak. Si wanita Nasrani mulai tertarik, menanti lantunan kalimat-kalimat “asing” dari mulut sahabatnya. Karena seperti ada ketenteraman batin yang datang bersamanya.
Suatu ketika, sahabatnya sedang tidak di rumah. Saat itu rasa penasarannya menggodanya untuk mengetahui isi Al Qur’an. Ia lalu beranikan diri membuka lembaran-lembaran Al Qur’an, bacaan favorit sahabatnya itu. Ketika ia buka, yang tampak hanya garis-garis hitam yang entah apa arti dan maksudnya. Tetapi ketika ia membaca terjemahannya, di situlah ia menemukan petunjuk yang luar biasa. Ayat-ayat dalam surat Al Ikhlas seakan menghentak batinnya untuk mengakui kebenaran konsep ketuhanan yang diajarkan kitab di tangannya.
Di suatu pagi berikutnya, di saat sahabatnya baru saja usai menjalankan shalat Shubuh-nya, si wanita Nashrani datang menghampiri. la duduk bersimpuh di dekat sahabatnya dan mendekapnya, seraya memohon agar ditun-tun untuk mengucapkan syahadat. Sahabatnya kaget bukan kepalang. Begitu cepat dan begitu mudah hidayah itu datang. Suasana menjelang pagi telah merubah semuanya.
Karena Kehidupan Pagi adalah Ciri Orang-Orang Shalih
Tidur, bagi manusia adalah sifat kesempurnaan. Orang yang tidak bisa tidur berarti memiliki kekurangan; kesehatan fisiknya sedang terganggu. Tetapi, memperpanjang jatah tidur juga bukan ciri manusia yang baik. Tidur berlama-lama akan membuat badan terasa berat, membuang waktu secara percuma, membentuk jiwa yang lalai dan malas, serta banyak hal negatif lainnya. Karena itu, hidup ini perlu keseimbangan.
Manusia terbaik di bumi ini adalah mereka yang beriman kepada Allah. Mereka yang mendisiplinkan waktunya, mengatur antara hak dan kewajibannya. Ketika malam tiba, mereka bersegera tidur supaya di penghujung malam bisa terbangun dan bercengkerama dengan keindahan dan kedamaian pagi.
Muawiyah bin Qurrah menirukan nasehat bapaknya ketika mereka sekeluarga telah melaksanakan shala Isya, “Wahai anak-anakku, tidurlah sekarang. Semoga Allah menganugerahkan kepada kalian kebaikan malam ini.”
Ada banyak hal yang dilakukan orang-orang shalih di kala pagi. Setelah mereka mendirikan shalat malam, mereka duduk berdoa dan bermunajat “menagih” janji-janji Allah, membaca dan mentadabburi Al Qur’an.
Fudhail bin Iyad pernah menceritakan, “Aku menjumpai suatu kaum yang malu kepada Allah di kegelapan malam karena kelamaan tidur. Pasalnya, mereka terbiasa hanya rebahan dan jika terjaga mereka berkata, “Ini bukanlah untukmu, maka bangkitlah untuk mengambil bagianmu di akhirat.”"
Tidur bagi mereka hanyalah sisa waktu yang sangat dibatasi dan melakukan amal-amal ketaatan di pagi hari adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Kehilangan pagi, bagi mereka adalah kerugian yang bisa memunculkan banyak sekali dugaan kebu-rukan. Sampai-sampai Ibnu Umar mengatakan, “Jika kami kehilangan seseorang pada shalat Shubuh dan Isya (di masjid), kami mempunyai prasangka buruk kepadanya.”
Karena Ilmu-Ilmu Allah Turun pada Waktu Pagi
Setiap fase waktu, antara siang dan malam yang telah dibentangkan Allah SWT untuk kita, memiliki klasifikasi dan keistimewaan yang tak tergantikan dengan fase-fase waktu yang lain. Antara mencari nafkah, ibadah, belajar, dan beristirahat semua telah diatur oleh Allah. Hanya saja, kita terkadang tidak memahami hikmah di balik ketentuan-ketentuan itu, atau bahkan sengaja tidak memperdulikannya dengan bermacam alasan, sehingga seringkali kita melakukan sesuatu yang tidak medatangkan hasil maksimal, yang tentu saja hal itu akan merugikan diri kita sendiri.
Rasulullah saw yang selalu mengajak umatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan shalat sunnah dan shalat Shubuh berjamaah, bukan tanpa alasan. Di sana, di balik heningnya suasana pagi, ada banyak hikmah yg mendalam. Diantaranya; berlimpahnya pahala dari Allah, kesegaran udara subuh yang menyegarkan fisik, konsentrasi pikiran dan daya ingat yang kuat untuk menyambut datangnya hikmah dan ilmu-ilmu Allah SWT.
Konsentrasi dan kemampuan memahami di waktu subuh yang tenang, adalah suasana yang tidak pernah dilewatkan oleh para ulama. Mereka mendalami suatu ilmu, menggali dan merenungi hikmah dari banyak peristiwa yang mereka saksikan, sehingga benar-benar paham dan menguasai banyak ilmu.
Ibnu Jarir Ath Thabari, misalnya, seperti diceritakan Al Khatib Al Baghdadi, selama empat puluh tahun dari usianya yang terakhir, ia mampu menulis sebanyak empat puluh halaman setiap hari. Yang istimewa dari prestasi Ibnu Jarir ini, meskipun ia menulis artikelnya selepas zhuhur hingga waktu ashar tiba. Tetapi, murajaahnya akan ilmu serta ide-ide yang akan ia tuangkan dalam tulisannya, ia dapatkan di awal-awal subuh, setelah menanuaikan qiyamul lail.
Salah seorang murid Ibnu Jarir, Abu Bakar Asy Syajari mengisahkan, “Setelah selesai sarapan pagi, Ibnu Jarir Ath Thabari tidur sebentar dengan pakaian berlengan pendek. Setelah bangun, ia mengerjakan shalat Dhuhur. Lalu menulis hingga waktu Ashar tiba, kemudian keluar untuk shalat Ashar. Selanjutnya, ia duduk di majelis bersama orang-orang untuk mengajar sampai datang waktu maghrib. Setelah itu, mengajar fiqh serta pelajaran-pelajaran lain sampai masuk shalat Isya. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat. Tengah malam ia bangun shalat malam dan menadalami ilmu-ilmunya.”
Kemuliaan pagi serta mudahnya akal menyerap ilmu di saat itu, pernah pula diingatkan Lukman Al Hakim kepada putranya, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas daripada dirimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.” (Tafsir AlQ urthubi)
Karena Pagi Tidak Berubah, yang Berubah adalah Kita
Pagi seperti tak pernah bosan menyapa kita. Kala kita sakit, bersedih, berduka, atau sedang bersuka cita, pagi selalu datang dengan berjuta optimisme dan harapan.
Hingga sekarang mungkin tak terhitung lagi, sudah berapa kali pagi menyambangi kita. Suasananya tak pernah berubah, pagi yang dulu tetap pagi yang sekarang, penuh dengan kesejukan dan kesegaran. Tetapi, itulah karakter waktu. Ia tidak akan pernah berubah kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain, atau masa yang telah ditentukan telah tiba, yang berarti keberlangsungan dunia ini akan segera berakhir.
Tanpa kita sadari, temyata pagi telah mengantarkan kita pada usia yang sekarang. Usia yang barangkali tidak lagi bisa dikatakan muda, karena kekuatan fisik yang dulu kita banggakan kini mulai melemah, ketampanan dan kecantikan muiai memudar, ketajaman mata mulai berkurang, rambut mungkin juga sudah mulai berganti warna, dan anak-anak di sekitar kita pun sudah semakin besar. Itu semua menjadi pertanda bahwa kita semakin tua, meskipun belum tentu dewasa.
Waktu memang terkadang menggilas kita. Tetapi, tentu karena ulah kita sendiri yang sering lupa, sering hilang kesadaran, bahwa kita harus berubah; lebih dewasa, lebih berilmu, lebih beriman, dan lebih dekat kepada Allah SWT karena kulitas ibadah yang terus mening-kat. Karena itu, Rasulullah mengingatkan kita, “Jangan sekali-kali mencela waktu, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, “Akulah waktu itu.”" (HR Ahmad)
Seorang salafu shalih memberi nasehat, “Beramallah untuk diri kalian di malam yang gelap gulita ini. Karena, sesungguhnya orang yang tertipu adalah orang yang tertipu oleh kebaikan siang dan malam. Orang yang terhalangi adalah orang yang tidak mampu untuk memperoleh kebaikan yang ada pada keduannya. Ia merupakan jalan kebaikan yang ada pada keduanya. Ia merupakan jalan kebaikan bagi kaum Muslimin untuk mentaati Rabbnya, dan bencana bagi mereka yang melalaikan dirinya. Maka, hidupkanlah diri kalian dengan selalu mengingat Allah.”
Tidak ada jalan lain memang, bahwa kita haru berani melihat pagi. Karena bisa jadi pagi ini adalah pagi yang terakhir untuk kita, sebelum sempat memperbaiki diri.
Karena Pagi adalah Sumber Keberkahan
Kesegaran subuh tidak hanya menemani kekhusyukan ibadah kita, atau mengiringi terkabulnya untaian doa dan munajat kita, atau mengasah ketajaman akal dan kemam-puan berpikir kita. Tetapi kesegaran subuh juga membuka pintu-pintu rezki yang telah Allah hamparkan di hari itu. Karena itu, Islam mengajak kita untuk berlomba menyambut dan mendapatkan rezki Allah dengan bersegera bangun pagi.
Fatimah ra, putri Rasulullah saw pernah bercerita, “Ayahku lewat di sampingku, sedang aku masih berbaring di waktu pagi. Lalu beliau menggerakkan badanku dengan kakinya dan berkata, “Wahai anakku, bangunlah, saksikan rezki Tuhanmu dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai karena Allah membagikan rezki kepada hamba-Nya, antara terbi tfajar dengan terbit matahari.”" (HR Ahmad dan Baihaqi)
Ini pula yang dilakukan Nabi Daud as. Ia membagi waktu hidupnya sehari untuk urusan dunia dan sehari lagi untuk akhiratnya, dengan berpuasa dan beribadah. Ketika harus memenuhi urusan dunianya, pagi-pagi sekali Nabi Daud sudah bangun, ia bersiap, lalu ia berangkat mencari nafkah. Rasulullah saw memujinya dengan sabdanya, “Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud adalah makan dari hasil usahanya sendiri.”
Keberkahan subuh bukan hanya pada rezki. Rasulullah saw jika ingin mengirimkan tentaranya ke medan perang, dilepaskannya pada waktu pagi. Ketika berhijrah ke Madinah pun, beliau berangkat pada waktu pagi.
Shakhar, salah seorang sahabat beliau yang meriwayatkan hadits di atas, adalah seorang saudagar. Jika dia ingin mengirimkan barang-barang dagangannya, selalu dia lakukan pada pagi hari, dan itulah puncaknya Allah memberikan banyak kekayaan kepadanya.
Aisyah ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Berpagi-pagilah mencari rezeki karena sesungguhnya berpagi-pagi itu membawa berkah dan menghasilkan kemenangan.”"
Kunci keberkahan dimulai dari membiasakan diri mendirikan shalat Shubuh berjamaah di masjid. Dan bisa dibayangkan, jika setiap Muslim di negeri ini melakukan shalat Shubuh berjamaah di masjid dan mereka rajin melakukan zikir, keberkahan akan muncul di mana-mana. Karena itu, carilah keberkahan dan kemenangan di waktu pagi, dan hindarilah tidur di saat itu, karena sebenarnya kebiasaan itu hanya akan menjauhkan kita dari rezki Allah SWT.
Sumber: Tarbawi Edisi 103 Th. 6/Muharram 1426 H/3 Maret 2005 M
Dipublikasi ulang oleh: Aboe Akbar Abi